Ignition 1000 Startup Jakarta 2017: Sebuah renungan untuk bergerak

Sumber gambar: https://teknojurnal.com/ignition-gerakan-nasional-1000-startup-digital-jakarta/

“Di masa depan, pekerjaan manusia akan semakin berkurang karena akan diambil alih oleh robot. Tugas kita sebagai generasi sekarang adalah menciptakan banyak lapangan pekerjaan yang diambil oleh robot.” – Bung Kamto.

 

Ucapan Bung kamto mengingatkan saya kepada ucapan James Altucher dalam bukunya Choose Yourself, “Di masa depan, pekerjaan hanya ada dua, pengusaha dan pegawai kontrakan”. Apa yang terjadi saat ini sungguh nyata. Saya melihat banyak perkantoran yang sudah mulai menerapkan sistem kontrak pegawai. Padahal tahun 90an, pegawai masih bisa menikmati hingga pensiun. Begitupun juga dengan Pidato kelulusan Mark Zuckenberg dari Havard university. Dia mengatakan, “Generasi kita akan kehilangan 10 juta pekerjaan. Tapi kita memiliki potensi untuk melakukan lebih dari itu secara bersama-sama.”

Mengutip dari pernyataan tersebut, Bisnis rintisan (Startup) adalah salah satu solusi untuk mengatasi permasalahan yang akan dihadapi semua manusia di masa depan. Memang, bisnis startup sangat baru dan baru berkembang beberapa tahun ini. Bahkan kita tertinggal dari Amerika serikat, China dan Korea Selatan soal jumlah startup. Bapak Adamas Selvia Devara dari ruangguru pun berkata “bahwa semakin banyak masalah, justru peluang bisnis semakin banyak. Dari sinilah peluang startup untuk berkembang di Indonesia sungguh besar. Apalagi hal ini diperkuat dari kutipan Ibu Lis Sutjiati bahwa pemerintah Indonesia sangat mendukung sekali gerakan 1000 startup.

Bapak Mohamad Ario Adimas dari indosat pernah mengatakan bahwa jangan pernah meremehkan kekuatan startup. Bisa jadi startup tersebut bisa melebihi Indosat. Apalagi sampai mencap buruk startup tersebut. Itu akan memberikan stigma buruk di kalangan startup yang ingin bekerjasama. Bahkan bapak Mohamad Irfan dari Bank Bukopin mengatakan kalau startup justru bisa menjadi partner bank dalam mengatasi regulasi. Misalnya bank dalam membuka cabang di daerah terperosok, membutuhkan waktu satu tahun. Dengan bekerjasama dengan fintech, bisa menjadi solusi dalam menunggu regulasi satu tahun.

Untuk memulai bisnis startup sendiri tidaklah mudah. Satu hal yang tidak boleh dilupakan untuk para startup pemula. Seperti yang diucapkan oleh Ibu Monika Halim dari Gojek. Bahwa hal terpenting dalam UX adalah familiar dan Californian roll. Familiar dalam hal ini adalah “umum” digunakan sehari-hari oleh masyarakat. Misalnya kita mengantre untuk menonton bioskop. Diusahakan interface yang kita buat terlihat familiar buat pengguna.

Hal kedua adalah Californian roll. Kita dituntut untuk berpikir perspektif. Jangalah memadang hitam putih segalanya. Ibu Monika mengutip kisah Californian roll tentang seorang pengusaha Jepang yang ingin mempromosikan kuliner Jepang di Amerika. Pada awalnya sushi terlihat aneh bagi orang amerika karena makan ikan mentah-mentah. Lalu sang pengusaha mempunyai cara dengan memodifikasi sushi dengan rasa lokal dan mengganti nama menjadi Californian roll. Tidak disangka penjualannya melejit, padahal secara esensi tetaplah sama. Sushi. Hanya dimodifikasi.

Sebelum menutup tulisan ini, saya ingin mengutip ucapan bapak Adamas, “Kalau membuat startup, sesuaikanlah dengan kesukaan kita. Ini akan membantu kita saat berada di posisi terpuruk. Apalagi membangun startup itu sangat-sangat berat sekali.” Juga mengutip ucapan bapak Jaka Wiradisuria sebelum memulai bisnis startup. “Kalau ingin jadi orang kaya, jangan ikutan startup. Cari pekerjaan yang mapan lalu investasi reksadana. Ini adalah permainan jangka panjang.”  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

20 − 12 =